Aku tak bisa menyangkali semua perasaanku. Aku ingin pergi jauh darinya, tapi bayang-bayang dirinya selalu mengikutiku. Semakin aku menjauhinya, semakin dalam juga perasaan rinduku muncul kepadanya. Aku benar-benar sudah jatuh cinta padanya. Pada wanita yang tak bisa melihat itu.
Pagi-pagi benar aku sudah keluar rumah untuk lari pagi. Langit masih gelap, tapi udara begitu sejuk. Inilah yang paling aku suka saat lari pagi. Aku berlari terus hingga keringat membasahi seluruh badanku. Akhirnya aku berhenti untuk beristirahat sebentar. Aku mengambil napas dalam-dalam, tapi entah kenapa saat bernapas dadaku terasa begitu sakit. Seperti ditusuk-tusuk, sehingga membuatku sulit bernapas. Baru kali ini aku merasa sakit seperti ini. Biasanya meski sudah berlari sangat jauh, aku merasa baik-baik saja.
Akhirnya aku berjalan pelan ke taman dan duduk disana. Lambat laun rasa sakit itu menghilang, dan aku merasa tubuhku pulih kembali. Matahari mulai menampakkan sinarnya. Aku melihat keindahan yang luar biasa di langit. Langit yang gelap seketika berubah warna menjadi kemerahan dan orange. Belum lagi disusul suara burung yang berkicauan menambah indah suasana. Hatiku terasa sangat tentram saat itu.
Cukup lama aku duduk ditaman, hanya untuk menikmati indahnya pagi hari, melihat orang lain lari pagi atau sibuk dengan aktivitasnya. Tapi sebenarnya pikiranku sedang melayang jauh. Aku sedang memikirkan Elin. Aku ingin bertemu dengan dirinya. Aku memejamkan mataku. Tergambar jelas dirinya dalam bayanganku. Yang ada dikepalaku hanya Elin,Elin, dan Elin.
Kubuka mataku dan aku begitu terkejut melihat orang yang selalu aku pikirkan berdiri didepanku.
” Apa ini nyata, kalau ini nyata buat apa dia ada disini?” benakku.
Aku melihat Elin berjalan mendekatiku. Elin menggunakan kaos oblong, dan celana 7/8, untuk berjalan Elin dibantu tongkat penunjuk jalannya. Dia menghampiriku.
” Apa ada orangnya?” tanyanya.
” Ada tapi kamu masih bisa duduk disebelah kananku,” jawabku.
Elin melangkah pelan dan duduk dengan hati-hati disebelahku. Aku melihat setiap gerakannya yang begitu anggun. Aku merasa dia benar-benar cantik.
Angin bertiup pelan membuat rambutnya bergerak indah. Elin tetap duduk diam menatap lurus kedepan. Kadang dia juga memejamkan matanya cukup lama. Ingin rasanya kudekap tubuhnya dan bilang aku mencintainya dan selalu memikirkannya. Akhirnya aku berniat untuk mengajak dia mengobrol.
” Hi Elin,” sapaku.
” Hi,” jawabnya lembut.
” Masih inget aku gak, Jack tetangga sebelah kamu,” kataku.
Aku harap dia masih mengingatku.
” Jack, iya aku masih inget,” jawabnya.
Betapa bahagianya aku, karena sia masih mengingat namaku.
” Lagi ngapain disini?” tanyaku.
” Duduk dan menikmati dunia,” katanya singkat.
Aku sempat terdiam mendengar ucapannya.
” Menikmati dunia, dia aja gak bisa melihat,” gumamku.
” Pagi ini sangat indah ya,” katanya.
Aku terdiam dan terus melihat dirinya. Jika melihat dia seperti ini aku tak menyangka bahwa dia tak bisa melihat.
” Jack, bisa kau merasakan bahwa pagi ini sangat indah?” tanyanya.
” Emm iya, matahari yang bersinar, langit yang cerah, angin yang berhembus pelan, juga banyak orang yang berlalu lalang,” jelasku.
Senyumnya merekah di wajahnya. Mataku terus tertuju pada wajahnya. Begitu lengkap indahnya pagi ini karena ada Elin disampingku. Jantungkuberdetak semakin cepat.
” Elin boleh aku tanya sesuatu?” tanyaku.
” Ya,” jawabnya singkat.
” Maaf sebelumnya ya. Aku ingin tahu, sejak kapan kamu mulai tidak bisa melihat?” tanyaku dengan hati-hati agar tak melukai perasaannya.
” Kata Ibu, sejak aku lahir,” jawabnya.
” Sejak lahir?! Tapi pertama kali aku melihat mu, kamu sedang melukis, aku kira kamu bisa melihat,” kataku.
” Iya sejak lahir aku sudah buta. Tapi aku tidak punya hak untuk menyalahkan siapapun. Entah kepada orang tuaku apalagi kepada Tuhan. Ayahku yang mengajariku melukis,” jawabnya.
” Ayah kamu seorang pelukis juga?” tanyaku.
” Bukan hanya pelukis, dia adalah seorang seniman yang hebat,” jawabnya.
Aku melihat mata Elin menjadi sembab. Aku tidak tahu apa penyebabnya.
” Ayahmu begitu hebat,” kataku.
Dia tersenyum.
” Ya ayahku sangat hebat,” jawabnya.
Mataku tak berhenti menatapnya. Aku merasa Elin menangis, karena matanya mulai berair.
” Kamu gak apa-apa?” tanyaku.
” Gak apa-apa,” jawabnya sembari menghapus airmatanya yang sebentar lagi akan menetes.
” Apa dia nangis, tapi kenapa dia nangis, apa kata-kata ku tadi ada yang salah,”pikirku.
” Jack, kamu sudah lama tinggal didaerah ini?” tanya Elin.
” Iya sejak aku lahir aku sudah tinggal disini, kenapa?” jawabku
” Kalau kamu tidak sibuk, bisakah kau memperkenalkan daerah tempat kamu tinggal kepadaku?” tanyanya.
Aku sempat terdiam. Jantungku berdegup begitu cepat.
” Ok, kalau aku lagi off kerja aku jemput kamu,” jawabku.
Bahagia dan senang bercampur jadi satu. Aku semakin jatuh cinta pada dirinya.
