Aku duduk lemas di taman belakang rumahku. Rasanya seperti tersambar petir dipagi hari. Kata-kata itu selalu terngiang di telingaku.

” Aku buta,”.

Benar-benar aku tak menyangka Elin wanita yang memiliki mata cukup indah itu ternyata buta. Aku mengambil rokok dari saku celanaku, aku nyalakan dan aku hisap perlahan.

Sungguh aku benar-benar tak percaya apa yang aku lihat dan aku dengar barusan tentang Elin. Elin adalah wanita yang bisa buat aku jatuh cinta. Tapi kenyataan yang aku terima begitu pahit. Mana bisa aku menjalin hubungan dengan wanita buta. Pasti sangat merepotkan. Menjalin hubungan dengan wanita normal aja buat pusing, apalagi sama wanita buta. Meski aku tahu dia buta, aku tak pernah bisa menghapus bersih wajahnya dari pikiranku.

Aku tetap duduk di taman belakang sambil memikirkan Elin. Entah apa yang aku akan aku lakukan terhadapnya. Apa aku tetap mendekatinya, apa harus menjauhinya. Itu semua membuatku pusing.

Bagaimana bisa aku menjauhinya, kalau kenyataannya aku selalu merindukan dan memikirkannya. Jujur, saat ini aku sangat merindukannya. Aku ingin melihat dirinya. Aku beranjak dari tempat dudukku dan pergi ke kamar. Ibu yang sedang menyiapkan sarapan melihat wajahku yang begitu lemas.

” Kenapa Jack?! Kok kelihatannya lemas banget. Ini ibu lagi buat sarapan,” kata ibu.

” Bu hari ini Jack ijin ya, Jack cape banget mau istirahat,” jawabku.

” Kamu sakit?” tanya ibu sambil memegang kening dan leherku.

” Tidak bu, Jack hanya lelah butuh istirahat. gak papa kan bu?” tanyaku.

” Ya udah kamu istirahat aja, biar masalah butik ibu yang urus, tapi nanti kamu makan ya Jack,” kata ibu.

” Iya bu Jack mau kekamar dulu,” sahutku.

” Entar kamu hati-hati ya sendirian dirumah,” kata ibu.

” Iya bu, ibu juga hati-hati dijalan,” kataku.

Aku pun meninggalkan ibu dan pergi kekamarku yang ada dilantai 2. Aku menutup pintu kamarku dan menguncinya. Aku berjalan perlahan menuju jendela kamar. Ku buka jendelaku dan aku dapat melihat tetangga kamarku yaitu Elin. Aku melihatnya sedang duduk sambil menyisir rambutnya yang ikal panjang. Selesai menyisir rambutnya, Elin berjalan menuju jendelanya yang dari tadi sudah terbuka. Dia mencondongkan wajahnya dan menghirup udara dalam-dalam. Aku tersenyum saat melihat tingkahnya.

Beberapa saat kemudian aku mendengar Elin bernyanyi. Memang awalnya suara itu terdengar pelan, tapi lama-lama suaranya terdengar begitu jelas.

“Semua baik, semua baik apa yang telah kau perbuat didalam hidupku. Semua baik sungguh teramat baik kau jadikan hidupku berarti”.

Seperti itulah kata demi kata yang aku dengar dari suara indah milik Elin. Suara Elin saat menyanyi begitu merdu. Aku saja sampai memenjamkan mataku ketika mendengar Elin bernyanyi.

Tapi aku harus tetap menjauhinya. Aku gak mungkin bisa menjalin hubungan dengan wanita yang tidak bisa melihat. Aku menutup kembali jendela kamarku. Dan aku berbaring diatas tempat tidurku. Aku mengambil rokok, dan mulai menghisapnya. Aku ingin menjauhi Elin, tapi aku selalu membayangkan, memikirkan dan merindukan dia. Memang Jatuh cinta itu adalah perasaan yang sangat sulit.