Aku adalah seorang Pria yang sangat beruntung. Diakhir hidupku, aku dipertemukan oleh belahan jiwaku yang mengubah kehidupanku menjadi lebih berarti. Seorang wanita yang dari dia aku belajar tentang kehidupan, ketulusan, cinta, dan kesabaran. Wanita yang mendekatkan aku kepada Tuhan. Karena wanita itu juga, aku jadi bisa menyadari bahwa hidup itu sangat indah meski dalam penderitaan. Aku sangat mencintainya.  Jika waktu bisa diulang kembali aku ingin hidup lebih lama agar bisa terus berada disisinya, menemaninya sampai akhir hidupnya. Tapi sayang penyesalan selalu datang terakhir.

20 tahun yang lalu,,,

Aku akan memulai kisahku sejak aku berumur 7 tahun. Namaku adalah Alexander Jack. Tapi aku biasanya dipanggil jack. Hidupku saat itu sangat bahagia. Aku punya Ibu yang sangat perhatian dan punya ayah yan sangat baik. Aku berasal dari keluarga yang bisa dibilang terpandang. Ayahku adalah seorang Direktur Utama, dan Ibu membuka usaha butik. Jadi aku tidak pernah mengalami kesusahan hidup. Saat itu aku merasa menjadi anak yang paling beruntung didunia ini.

Meski ayahku adalah seorang Presiden Direktur dan Ibu adalah pengusaha tapi mereka selalu memperhatikan aku. Mereka selalu ada waktu untukku. Kadang, ibu menyempatkan masak untuk aku dan ayah. Begitu juga dengan ayah yang selalu mengajakku bermain dihari libur. Kehidupan yang begitu indah.

Tapi kesempurnaan, kebahagian hidupku itu berangsur menjauh dariku. Aku merasa seperti ada badai yang begitu dasyhat dan menarik semua kebahagian keluargaku. Pada usiaku yang ke 13 tahun, aku mulai merasa kesepian. Ayah dan ibu sangat berbeda. Ayah sering tidak pulang. Dan ibu sangat sibuk dengan usaha butik. Mereka tidak pernah memperdulikanku lagi. Ayah dan ibu juga terlihat semakin menjauh. Mereka tidak pernah mengobrol lagi. Biasanya kalau sedang makan, ayah dan ibu sering berbincang, tapi sekarang hanya berdiam-diam seribu bahasa. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi

Sampai akhirnya, saat aku berumur 15 tahun, ayah dan ibu ku berpisah. Ayah meninggalkan aku dan ibuku. Aku melihat ayah pergi bersama dengan wanita cantik. Dan sejak saat itu ayah tak pernah kembali lagi. Jujur saja, perasaanku saat itu sangat berantakan. Aku tak percaya ayah meninggalkan aku dan ibu. Aku benar-benar tak percaya itu.

Sepeniggallan ayah, sikap ibu semakin aneh. Aku semakin tidak dianggap oleh ibu. sangat sulit aku bertemu dengan ibu. Aku merasa sangat kesepian.

Dan saat aku berumur 15 tahun  aku bersekolah di SMA ternama di kawasan Jakarta. Meski ini adalah sekolah terpandang, tapi tetap saja muridnya banyak yang bejat termasuk diriku. Hidupku berubah total saat aku mengenal kakak kelas yang bernama Dicky. Dicky adalah anak yang terkenal badung di sekolah kita. Tapi dia juga mempunyai banyak teman. Kebandelan pertama yang Dicky ajarkan padaku saat itu adalah merokok di sekolahan. Seperti biasa aku, Dicky dan temannya nongkrong di taman belakang sekolah.

” Jack lu mau gak?” tanya teman Dicky yang bernama Faris.

Dia menawarkan benda putih panjang. Sebenarnya aku tahu itu adalah rokok. Tapi jujur aku belum pernah merokok.

” Apaan ni?” tanyaku pura-pura bodoh.

” Goblok amat sih lu, masa ini aja gak tau. Ini tuh rokok,” jawab Faris sambil menonjok bahuku.

” Gak ahh, gue gak ngerokok,” jawabku singkat.

” Coba dulu Jack sebatang, cowo gak ngerokok tuh gak maco,” bujuk Dicky.

Ada rasa penasaran juga.

” Apa sih rasanya ngisap rokok,” pikirku.

Aku melihat ke Faris yang sedang asyik menghisap rokok itu dan mengeluarkan asap dari mulut dan hidungnya.

” Enak tau Jack, nih coba,” kata Faris sambil memberikan korek padaku.

Dengan ragu-ragu aku menyalakan rokok itu. Dan dengan perlahan aku menghisapnya.

” Hhuukkk…huukkk,” aku tersedak karena asap yang masuk kedalam tenggorokanku.

Saat melihat aku tersedak, Dicky dan Faris tertawa keras.

” Awalnya memang begitu bro, lama-lama juga enak kok,” kata Dicky.

Akhirnya aku menghisap batang rokok itu lagi. Benar kata Dicky. Rasanya semakin enak. Dalam waktu 5 menit aku sudah menghabiskan rokokku.

” Mantapkan bro?” tanya Faris.

” Iya bro, bagi lagi dong,” sahutku.

Farisku pun memberikan aku sebatang rokok lagi. Aku membakar ujungnya dan mulai menghisapnya perlahan. Aku merasa sangat tenang.

” Cepetan Jack, bentar lagi masuk kelas,” kata Dicky.

” Inikan masih baru Dik,” kataku sambil menujukan rokok yang baru aku bakar.

” Ya udah matiin aja, entar pulang lanjut lagi,” sahut Faris.

Aku segera mematikan rokokku dan menyimpannya dalam saku celana.

” Sebelum masuk kelas, semprot dulu pake ini,” kata Dicky sembari memberikan aku parfum dan pengharum mulut.

Aku tahu maksudnya agar kami tidak ketahuan oleh yang lain karena kami habis merokok.

Itu adalah awal perubahan sikapku menjadi anak badung. Ibu yang tidak pernah memperhatikanku, tidak tahu perubahan sikapku. Ibu juga tidak tahu bahwa aku sering meminta uang kepada ayah. Dan ayah selalu memberikanku uang dalam jumlah yang besar, tapi ayah selalu berpesan bahwa jangan memberitahukan ini kepada ibu. Jujur saja aku sangat benci kepada ayahku, tapi aku sangat butuh banyak uang untuk kepentingan pribadiku.

Dari hari ke hari sikapku bertambah bengal. Aku bukan Jack yang dulu lagi. Tapi aku sangat menyukai kehidupanku sekarang. Aku merasa mendapatkan perhatian oleh teman-temanku. Kecanduan aku pada rokok pun semakin meningkat. Aku bisa menghabiskan 3 bungkus rokok sehari. Tapi aku bukan kuat ngerokok saja, Dicky juga mengajariku minum-minuman keras. Setiap hari Sabtu, aku tidak pernah pulang kerumah. Aku menginap dirumah Dicky. Aku beralasan untuk mengerjakan tugas. Padahal aku, Dicky dan teman-temannya lain asyik menikamati rokok dan minuman keras. Hidupku sangat menyenangkan.

Pernah suatu kali, seperti biasa kalau hari Sabtu aku menginap di rumah Dicky. Tapi ini berbeda dari biasanya, karena sekarang ada beberapa cewek seksi dan cantik yang ikut berkumpul dengan kami. Ketika kami merokok, cewek ikut merokok, dan  ketika kita minum, mereka juga ikut minum.

Aku sangat tidak suka melihat cewek seperti itu. Aku bepikir cewek-cewek itu pasti adalah cewek murahan. Tapi sewaktu aku sedang asyik menghisap rokokku, Dicky menarikku keluar kamar.

” Kenapa sih Dik?” tanyaku aneh.

” Gue langsung to the point aja, lu mau cewek yang mana?” tanya Dicky.

” Maksud lo apaan sih?” tanyaku aneh.

” Ini malam spesial bro. Lu pasti belum pernah gituankan?” tanya Dicky.

Pertanyaan Dicky membuatku bingung.

” Gituan apaan sih Dik, gue gak ngerti maksud lu?” tanya ku lagi

” Ngeseks bego, yang kayak difilm bokep, lu belum pernahkan?! Nah makanya malam ini gue ngajak temen-temen cewek gue buat ngajarin lu. Gue udah siapin kamar buat lu. Kalau lu nolak berarti lu idiot,” kata Dicky kepadaku.

Aku berpikir sebentar. Mungkin gak ada salahnya juga mencoba. Toh, apapun yang diajarkan Dicky hasilnya selalu menyenangkan.

” Ok, lu pilihin yang paling montok yaa, gue tunggu di kamar yang udah lu siapin,” jawabku pasti.

” Ok brother, lu pasti seneng deh,” kata Dicky sambil menepuk punggungku.

Aku berjalan menuju kamar yang ditunjukan Dicky. Kamarnya tidak besar, hanya ada kasur kecil satu di kamar itu. Aku duduk dikasur itu, dan membayangkan apa yang akan terjadi. Malam ini, aku akan kehilangan keperjakaanku. Aku mulai berbaring sambil terus bermain dengan pikiranku. Tak lama kemudian seorang cewek masuk.

” Hai Jack,” sapanya.

” Hai,” sahutku singkat sambil bangun dari tidurku.

” Kenalin nama gue Lina,” katanya sambil menyodorkan tangannya.

Woow luar biasanya. kulitnya terlihat halus dan mulus banget. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera menarik tangan Lina dan mencium bibirnya pelan. Aku tak menyangka Lina pun membalas ciumanku lebih ganas. Dan akhirnya kejadian itu terjadi. Aku melepas keperjakaan pada usiaku yang jalan 16 tahun. Tapi entah kenapa aku tak pernah menyesalinya saat itu.

Kehidupanku benar-benar sudah berubah. Aku semakin dalam jatuh ke dalam pergaulan bebas. Free sex, ngerokok, minum mabok, Itulah yang sering aku lakukan.

Pada ulang tahunku yang ke 17, ayah memberikanku mobil sport keluaran terbaru. Dan karena ayah memberikanku mobil itu, jadi aku sering balap liar. Hidup bebas itu sangat menyenangkan.

Setelah selesai SMA, aku tidak kuliah atau bekerja. Aku menghabiskan waktuku bersama teman-temanku, melakukan hal-hal yang gila. Di umurku yang jalan 18, aku tidak tahu sudah berapa kali melakukan hubungan seks. Tapi anehnya, sudah banyak wanita aku pacarin, dan tidur denganku, tapi tak ada satu pun dari mereka yang mampu membuatku merasakan cinta. Aku mendekati mereka hanya untuk “having”.

Aku tumbuh menjadi pemuda yang brengsek. Itu semua karena keluargaku yang berantakan. Aku juga tak pernah menceritakan kisah pedih keluarga pada siapapun. Aku hanya memendamnya dalam hati dan pikiran. Jujur saja kalau mengingat kejadian saat ayah meninggalkan aku dan ibu, hatiku sangat sakit. Pernah aku mencoba bunuh diri, tapi aku merasa takdir tak mau membiarkanku mati. Maka, untuk melupakan itu, aku melakukan hal-hal gila bersama teman-temanku.

Pada usiaku yang ke 20  tahun, Ibuku sedikit mengubah hati dan sikapku. Saat itu jam 10 pagi, aku baru pulang balap liar. Sewaktu aku masuk kerumah, aku melihat ibu duduk di sofa. Aku berjalan kekamarku, seakan-akan tidak memperdulikan ada ibu disitu. Tapi ketika aku mau naik tangga, aku mendengar suara ibu memanggilku.

” Jack,” sapa ibu.

Ibu memanggilku. Suaranya sangat lemas. Aku tidak menjawab.

” Jack, boleh aku minta waktumu untuk berbicara?” tanya ibu dalam bahasa yang begitu formal.

Dengan malas aku mendekati Ibu. Ibu memalingkan wajahnya, dan memandangku dengan pandangan sayu. Aku juga menatap wajah Ibu. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku tak melihat wajah ini. Sekarang wajah ibu sudah berubah. Banyak kerutan-kerutan disekitar mata dan keningnya. Belum lagi rambutnya yang indah sudah banyak yang berubah warna menjadi putih.

” Jack, anakku mari duduk dekatku,” kata Ibu.

Aku menuruti kata Ibu. Aku berjalan dan duduk di sebelah Ibu.

” Jack,” panggil Ibu.

” Iya,” jawabku singkat.

Ibu menatap wajahku lagi. Aku melihat mata Ibu berkaca-kaca seperti mau menangis.

” Jack, kau sudah dewasa sekarang. Kau tumbuh sebagai laki-laki yang tampan, kau juga sudah menyelesaikan SMAmu dengan nilai yang baik, Ibu bangga padamu,” kata Ibu.

Aku hanya tersenyum mendengar perkataan Ibu. Ibu benar-benar tidak tahu, bahwa aku sudah tumbuh menjadi laki-laki yang brengsek. Ibu terdiam sejenak, dan mulai melanjutkan perkataannya lagi.

” Maafkan Ibu Jack, semenjak kejadian itu, Ibu tak pernah memperhatikanmu lagi. Seharusnya sikap Ibu tidak boleh seperti itu. Ibu sangat terpukul semenjak ayahmu pergi meninggalkan kita. Ibu sangat mencintai ayahmu, tapi ibu tak habis pikir kenapa ayahmu meninggalkan ibu,” kata Ibu.

Aku terus menatap wajah Ibu. Air matanya mulai mengenang di pipinya.

” Ibu hanya bisa menyibukan diri, untuk bisa melupakan ini semua. Maafkan Ibu Jack, maafkan Ibu. Ibu tak pernah memperhatikan kamu lagi. Ibu merasa sangat bersalah pada Tuhan dan juga padamu,” kata Ibu terisak.

Baru kali ini, aku melihat Ibu menangis. Entah kenapa air mataku pun juga ingin keluar. Aku tahu Ibu pasti sangat tertekan, sedih,kecewa, dan putus asa. Segera aku berdiri dan mendekap Ibu. Saat itu aku tidak bisa menahan air mataku. Aku pun juga ikut menangis. Aku tidak berkata apa-apa. Aku hanya menangis sembari memeluk Ibu. Dan aku baru menyadari bahwa Ibu sangat menyanyangiku, begitu juga dengan aku. Didalam benakku, aku ingin menjadi anak yang berguna untuk Ibu. Aku ingin membahagiakan Ibu.

” I love u Mom,” kataku dalam hati.

Semenjak kejadian aku bertekad ingin hidup lebih baik. Aku mulai mencari pekerjaan. Dengan bermodal ijasah yang nilainya bagus karena contekan, aku berkeliling Jakarta untuk mencari pekerjaan. Aku tidak ingin melanjutkan kuliah. Karena aku tak suka belajar.

6 bulan sudah berlalu, tapi aku juga belum mendapatkan pekerjaan. Aku mulai putus asa.  Ada perasaan menyesal karena aku tak pernah belajar dengan benar. Makanya tak ada satu perusahaan yang mau menerimaku.